Berikut ini ana tuliskan nasehat dari seorang Ulama yang mungkin lantunan Tilawahnya sering kita dengarkan, Beliau adalah Syaikh Su’ud Asy-Syuraim Imam Masjidil Haram, yang ana ambil dari majalah Al-Mujtama’ edisi 5 Th. I/ 12 Sya’ban 1429 H/ 14 Agustus 2008.
Dunia Islam sedang dirundung masalah yang sulit dan berat, khususnya di Palestina dan dunia Islam secara umum. Tak terkecuali Indonesia yang hingga kini belum keluar dari berbagai krisis multidimensial, termasuk krisis kepemimpinan. Umat Islam saat ini lebih membutuhkan pencerahan dan nasehat dari para Ulama.
Kita memerlukan nasehat seorang ulama kharismatik yang bisa menuntun umat kepada kesadaran untuk menunaikan amanah hidup. Ummat Islam tentu tak asing lagi dengan Syaikh Su’ud Syuraim, Imam Masjidil Haram, Lantunan tilawah dan do’a-do’anya selalu menitikkan air mata. Kepada wartawan al mujtama’, Ahmad Tarmidzi dan Agus Syahadat yang menemuinya di kediaman Dubes Arab Saudi, Ulama Besar ini menyampaikan nasehatnya. Berikut petikannya.
Apa Tujuan Utama kunjungan Syaikh ke Indonesia?
Saya mengunjungi saudara-saudara Muslimin di Indonesia, negeri kandung kami dalam rangka kerjasama bidang dakwah. Hal ini terwujud dalam dua hal. Pertama, keterlibatan dalam hal musabaqoh (kompetisi) menghapal Al qur’an dan Hadist tingkat Internasional di level Asia Tenggara dengan hadiah dari Pangeran Kerajaan Arab Saudi, Sultan Bin Abdul Aziz. Perlombaan ini sangat penting karena materi yang diperlombakan adalah Kitabullah Al qur’an, sumber ilmu yang paling mulia, agung dan sempurna. Kedua safari dakwah dan pantauan ke sejumlah daerah di Indonesia terkait dengan perkembangan Islam.
Berapa kali Syaikh mengunjungi Indonesia dan apa pendapat Syaikh tentang negeri ini?
Saya mengunjungi Indonesia tiga kali. Saya melihat umat Islam di Indonesia memiliki semangat dan kepedulian terhadap Islam. Disamping itu, rakyat Indonesia sangat bersahaja, santun, tenang, rendah hati. Itulah yang saya dapatkan dari rakyat Indonesia.
Apakah ada pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam Indonesia? Apa saja yang dibicarakan?
Saya bertemu dengan Presiden RI dan wakilnya, Ketua MPR dan DPR RI juga Menteri Agama RI dan sejumlah tokoh penting lainnya. Dalam pertemuan itu kami membahas banyak masalah keumatan, masalah dunia Islam dan masalah dunia arab. Alhamdulillah hasilnya positif.
Bagaimana kondisi dunia Islam sekarang menurut Syaikh?
Dunia Islam kini melewati fase yang sangat sulit (menghela nafas), saat ini Islam perlu mempersiapkan segala masalah dalam berbagai bidang, membuka kembali berbagai masalah untuk dibicarakan dan dicarikan solusi yang terkait dengan masalah umat Islam yang bisa menyatukan barisan mereka, menyerukan untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik dari sekarang.
Masalah-masaah ini yang seharusnya digulirkan pada level dunia Islam dalam bidang politik, ekonomi, sosial serta bidang-bidang lainnya. Sebab sangat disayangkan, sudah sejak lama, Negara-negara arab dan dunia Islam belum mencapai hasil yang diharapkan.
Apa saja langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kondisi yang lebih baik itu?
Tentu saja langkah itu tidak dengan usaha pribadi, harus ada upaya jama’i (bersama-red) yang melibatkan semua unsur umat. Harus ada sistem yang bisa mengantarkan umat kepada kemajuan, persatuan dan kondisi yang lebih baik. Pada saat yang sama juga harus diefektifkan organisasi organisasi Islam yang ada seperti Muktamar Alam Islami (OKI), Liga Arab, melakukan koordinasi yang kuat dalam menghadapi kondisi kekinian dan masalah umat.
Sebentar lagi pemilu akan diselenggarakan di Indonesia. Apa nasehat Syaikh bagi umat Islam Indonesia?
Nasehat saya yang paling utama adalah harus disadari bahwa pemilu, pencalonan sebagai Presiden atau Jabatan lainnya bukanlah prestise dan kebanggaraan, bukan kemuliaan satu-satunya tapi tanggung jawab. Bagi mereka yang mencalonkan diri atau menawarkan diri untuk dipilih, hendaklah menjadikan tujuan pertama adalah mencari ridho Allah.
Bagi mereka yang terpilih hendaklah berusaha keras untuk adil dalam menegakkan hukum, menjaga agama dan komitmen dengannya. Inilah yang harus menjadi prioritas yang dipikirkan oleh orang yang sudah terpilih menjadi Presiden, Wakil dan Jabatan lainnya. Sebab, ia akan menjadi tanggung jawab dan amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah di hari Kiamat. Jabatan itu akan menjadi penyesalan dan kesedihan di hari kiamat bagi mereka yang menyelewengkan tanggung jawab dan tidak menunaikan hak dan kewajibannya.
Dalam hal ini apa nasehat Syaikh untuk para elit politik Islam dan pemimpin partai?
Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah SWT dan hendaklah menyadari bahwa Islam itu satu. Meski partai, kelompok, dan organisasi banyak namun yang menjadi referensi terakhir hanya satu- jika terjadi perselisihan- yaitu Kitabullah Alqur’an dan Sunnah. Jika menemui kesepakatan maka Alhamdulillah karena semua kita kelompok berbeda bisa menempuh jalan yang ditentukan oleh Alqur’an dan Sunnah. Ini titik penting yang harus diperhatikan. Namun jika menyimpang dari jalan yang ditetapkan al-qur’an dan sunnah maka pasti akan terjadi masalah nantinya.
Nasehat Syaikh untuk rakyat Indonesia yang memilih pemimpin mereka?
Yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih pemimpin adalah amanah, kapabilitas, kemampuan, profesionalisme, kualitas calon dalam segala hal terutama dalam bidang agama. Inilah pondasi pencalonan sebagai pemimpin. Yang menjadi pertimbangan jangan lagi kedaerahan, ras dan suku. Yang menjadi pertimbangan seharusnya adalah kebenaran yang universal. Sebab pemimpin yang terpilih nantinya akan memimpin semua wilayah dan rakyat Indonesia.
Di Indonesia banyak jamaah dakwah, terkadang terjadi gesekan. Apa nasehat Syaikh untuk aktivis dakwah itu?
Memang jama’ah-jama’ah Islam itu sudah menjadi takdir di dunia Islam di era sekarang. Karena wilayah dunia Islam sudah begitu luas. Menurut saya, dengan variasi jama’ah-jama’ah itu yang ada sejak lama, belum pernah ada ekspos media dan kecanggihan teknologi media massa seperti sekarang ini.
Padahal media TV terutama, bisa dimanfaatkan untuk mendekat jamaah tersebut, menyatukan tujuan dan sumber hukum. Realita dan perkembangan terbaru dalam bidang media, terutama media TV dan siaran Live jika dimanfaatkan dengan baik dan sesuai, maka ia bisa menjadi sarana untuk meminimalisir perbedaan-perbedaan itu dengan sekuat mungkin. Namun hal ini membutuhkan upaya yang sangat besar dan waktu yang lama. Jika ada upaya berkesinambungan dan waktu yang cukup maka dengan izin Allah akan ada pemecahan masalah.
