Dua profesor bidang sejarah memuja dan memuji buku karangan seorang murtad asal Mesir, Farag Fouda. Dua Guru Besar itu adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan Prof. Dr. Syafi`i Maarif, yang juga Guru Besar Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY).
Keduanya memuji atas buku karya Fouda yang berjudul al-Haqiqah al-Ghaybah. Belum lama ini, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan edisi Indonesia sebuah buku berjudul “Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin”.
Selanjutnya judul buku ini disingkat KYH. Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa yang oleh penulisnya disebut sebagai sisi kelam dari sejarah Islam. Jika kaum Muslim menyebut zaman Khulafaurrasyidin sebagai masa yang ideal, maka Fouda meggambarkan sebaliknya. Menurut Fouda, zaman itu bukanlah masa ideal, tapi “zaman biasa”. “Tidak banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak jejak memalukan.” (hal.xv).
Mungkin karena itulah, kaum liberal di Indonesia sangat bergairah dengan terbitnya buku tersebut. Pada sampul depan, Prof. Azra berkomentar: “Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan masa depan”.
Sementara pada sampul belakang, dimuat komentar Prof. Dr. Syafi`i Maarif. Profesor Syafi’i Maarif terkesan begitu terpesona oleh karya Faouda ini, sehingga dia berkomentar: ”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif.
Benarkah buku Fouda ini memang obyektif dan komprehensif, sebagaimana pujian para profesor sejarah di Indonesia itu? Untuk membuktikannya, berikut kesalahan fatal metodologi Fouda. Menurut peneliti bidang sejarah di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Asep Sobari, Baca entri selengkapnya »