Saat ini kita memasuki bulan rajab, dan sebagaimana kita ketahui ada sebuah do’a yang masyhur dikalangan masyarakat kita, “
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .
Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ; “Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.
Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad 1/259, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam Ad-Du’â’ no. 911, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Imân 3/375 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/269 dari jalan Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd dari Ziyâd An-Numairy dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd menurut Imam Al-Bukhâry munkarul hadits, dan Ziyâd An-Numairy juga lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizânul I’tidâl.
Hadist ini mempunyai dua cacat
- Zaidah bin Abi Ar-Raaqod
- Zyad bin Abdullah an numairy
Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar.
An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.
bolehkah kita menggunakan atau memakai do’a atau gubahan do’a diatas?
Pada dasarnya kita boleh berdo’a apa saja kepada Alloh SWT. Kita boleh meminta sesuatu kebutuhan kita di dunia dan di akhirat selama itu adalah kebaikan,
Dalam sebuah hadist diriwayatkan :
Di masa Rasul, ada seorang shahabat yang diriwayatkan berdoa dengan lafadz yang beliau SAW belum pernah dengar. Sampai beliau SAW minta shahabat tadi mengulanginya. Bunyinya:
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مبارَكًا فيه كما يحبُّ ربُّنا أن يُحمَدَ ويَنبغي له
Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak dan baik serta diberkati di dalamya, dengan pujian yang Tuhan kami menyukai untuk dipuji dengannya dan pantas pujian itu untuk-Nya.
Setelah mendengar sekali lagi lafadz doa gubahan shahabatnya itu, beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh 10 malaikat berebutan untuk menuliskannya. Namun mereka tidak tahu cara menuliskannya hingga mereka bawa kepada rabbul ‘izzah Allah SWT, maka Allah SWT perintahkan, “Tulislah sebagai hamba-Ku mengucapkannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dengan para perawi yang tsiqah
Hadits di atas membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak melarang shahabatnya berdoa dengan lafadz yang dikarangnya dan menjadi isyarat kepada kita bahwa berdoa dengan redaksi sendiri bukanlah suatu yang terlarang, tidak dari sisi lafadz maupun waktu.
Ada juga do’a untuk seseorang yang telah di karunia anak
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ وَرُزِقْتَ بِرُّهُ .
Barokallaahu laka fil mauhibi, wasyakarta wahiba wabalagha asyuddahu waruziqta birrohu
Ini bukan hadits Nabi, melainkan atsar dari Hasan Al-Bashri, seorang tokoh tabi’in. Itu pun sanadnya lemah. Ada juga yang mengatakan ini sebagai atsar dari Husain bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma. Kita boleh mengamalkan atsar ini namun bukan dengan keyakinan bahwa ini adalah sunnah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan sekadar sebagai do’a atau ucapan selamat bagi saudara kita yang baru saja dikaruniai anak. Imam An-Nawawi menyebutkan do’a ini dalam Al-Adzkaar/Bab Istihbab At-Tahni`ah wa Jawab Al-Muhanna`/tanpa nomor hadits (hadits sebelumnya bernomor 741 dan hadits sesudahnya bernomor 742, karena memang Imam An-Nawawi tidak menganggap do’a ini berasal dari Nabi, melainkan dari Husain bin Ali). Syaikh DR. Sa’id bin Ali Al-Qahthani menyebutkan do’a ini dalam Hishnul Muslim pada hadits nomor 145, seraya mengisyaratkan pentash-hihan hadits ini oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Shahih Al-Adzkar (2/713).(kumpulan do’a sehari-hari, Abduh ZA)
lafazd do’a ini juga terdapat dalam tuhfatul maudud fi ahkamil maulud karya ibnul qoyyim
Jadi berdasarkan hadist dan atsar tersebut pada dasarnya boleh berdo’a dengan redaksi sendiri ataupun redaksi para salafus sholeh atau ulama selama hal tersebut tidak diklaim bahwa lafadz tersebut adalah ajaran rosulullaah SAW, karena bisa jadi seseorang mempunyai permintaan yang lebih spesifik. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali beliau mengatakan “yang penting janganlah sampai mengesampingkan do’a-do’a yang berasal dari Alqur’an dan Sunnah. Jadi berdasarkan keterangan diatas kita boleh menggunakan lafazd do’a atau gubahan lafazd tersebut selama kita tidak mengklaim dan menyakini bahwa do’a tersebut berasal dari hadist (shohih) Rosulullaah SAW juga tidak berniat untuk mengamalkan atau melandaskan hadist (dhoif) tersebut melainkan hanya menggunakan lafazd karena bisa jadi kita tidak pandai menyusun do’a atau alasan lainnya yang bisa dibenarkan.
Selain do’a diatas yang sering kita dengar juga adalah do’a hendak makan juga do’a hendak berbuka puasa, namun demikian sekiranya disana terdapat contoh-contoh yang berasal dari alqur’an dan sunnah (yang shohih) yang mencakup permintaan kita atau keadaan tertentu tentu lebih baik menggunakannya, karena hal itu lebih selamat dan lebih baik. Wallaahu A’lam Bishowab
Saat ini kita telah memasuki bulan rajab, dan sebagaimana kita ketahui ada sebuah do’a yang masyhur dikalangan masyarakat kita, “
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .
Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ; “Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.
Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad 1/259, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam Ad-Du’â’ no. 911, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Imân 3/375 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/269 dari jalan Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd dari Ziyâd An-Numairy dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd menurut Imam Al-Bukhâry munkarul hadits, dan Ziyâd An-Numairy juga lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizânul I’tidâl. Dan hadits di atas dilemahkan pula oleh Syaikh Al-Albâny dalam Dho’îful Jami’.
Hadist ini mempunyai dua cacat
1. Zaidah bin Abi Ar-Raaqod
2. Zyad bin Abdullah an numairy
Berkata ahlul ilmi =
Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar.
An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.
Andaikan kita ingin berdo’a di bulan rajab ini, bolehkah kita menggunakan atau meniru do’a diatas?
Pada dasarnya kita boleh berdo’a apa saja kepada Alloh SWT. Kita boleh meminta sesuatu kebutuhan kita di dunia dan di akhirat selam itu adalah kebaikan,
Dalam sebuah hadist diriwayatkan :
Di masa Rasul, ada seorang shahabat yang diriwayatkan berdoa dengan lafadz yang beliau SAW belum pernah dengar. Sampai beliau SAW minta shahabat tadi mengulanginya. Bunyinya:
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مبارَكًا فيه كما يحبُّ ربُّنا أن يُحمَدَ ويَنبغي له
Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak dan baik serta diberkati di dalamya, dengan pujian yang Tuhan kami menyukai untuk dipuji dengannya dan pantas pujian itu untuk-Nya.
Setelah mendengar sekali lagi lafadz doa gubahan shahabatnya itu, beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh 10 malaikat berebutan untuk menuliskannya. Namun mereka tidak tahu cara menuliskannya hingga mereka bawa kepada rabbul ‘izzah Allah SWT, maka Allah SWT perintahkan, “Tulislah sebagai hamba-Ku mengucapkannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dengan para perawi yang tsiqah
Hadits di atas membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak melarang shahabatnya berdoa dengan lafadz yang dikarangnya dan menjadi isyarat kepada kita bahwa berdoa dengan redaksi sendiri bukanlah suatu yang terlarang, tidak dari sisi lafadz maupun waktu.
Ada juga do’a untuk seseorang yang telah di karunia anak
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ وَرُزِقْتَ بِرُّهُ .
Barokallaahu laka fil mauhibi, wasyakarta wahiba wabalagha asyuddahu waruziqta birrohu
Ini bukan hadits Nabi, melainkan atsar dari Hasan Al-Bashri, seorang tokoh tabi’in. Itu pun sanadnya lemah. Ada juga yang mengatakan ini sebagai atsar dari Husain bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma. Kita boleh mengamalkan atsar ini namun bukan dengan keyakinan bahwa ini adalah sunnah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan sekadar sebagai do’a atau ucapan selamat bagi saudara kita yang baru saja dikaruniai anak. Imam An-Nawawi menyebutkan do’a ini dalam Al-Adzkaar/Bab Istihbab At-Tahni`ah wa Jawab Al-Muhanna`/tanpa nomor hadits (hadits sebelumnya bernomor 741 dan hadits sesudahnya bernomor 742, karena memang Imam An-Nawawi tidak menganggap do’a ini berasal dari Nabi, melainkan dari Husain bin Ali). Syaikh DR. Sa’id bin Ali Al-Qahthani menyebutkan do’a ini dalam Hishnul Muslim pada hadits nomor 145, seraya mengisyaratkan pentash-hihan hadits ini oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Shahih Al-Adzkar (2/713).
lafazd do’a ini juga terdapat dalam tuhfatul maudud fi ahkamil maulud karya ibnul qoyyim
Jadi berdasarkan hadist dan atsar tersebut pada dasarnya boleh berdo’a dengan redaksi sendiri ataupun redaksi para salafus sholeh atau ulama selama hal tersebut tidak diklaim bahwa lafadz tersebut adalah ajaran rosulullaah SAW, karena bisa jadi seseorang mempunyai permintaan yang lebih spesifik.
Namun demikian sekiranya disana terdapat contoh-contoh yang berasal dari alqur’an dan sunnah (yang shohih) yang mencakup permintaan kita tentu lebih baik menggunakannya, karena hal itu lebih selamat dan lebih baik. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali beliau mengatakan “yang penting janganlah sampai mengesampingkan do’a-do’a yang berasal dari Alqur’an dan sunnah.
Wallahu A’lam Bishowab