Nasehat Taqwa kepada Alloh

Ya bunayya inna robbaka ya’lamu ma tukinnuhu fii sodrika wama tu’linuhu bilisanika wamutholli’un ala jami’i a’malika fattaqillaha ya bunayya…….

Ya bunayya… (Wahai anakku…) Sesungguhnya Rabmu mengetahui apa yang kamu betikkan dalam hatimu, dan Dia mengetahui apa yang engkau ucapkan dengan lisanmu, dan Dia melihat terhadap segala amalanmu, maka bertakwalah kamu kepada Allah wahai anakku, dan berhati-hatilah kamu terhadap pengawasan-Nya pada saat kamu dalam keadaan yang tidak diridhai oleh-Nya.

Hati-hatilah kamu dari kemurkaan Rabbmu, yang mana Dialah yang telah menciptakanmu dan memberikan rizki kepadamu serta yang telah mengaruniai kamu akal yang dapat kamu gunakan di dalam kehidupanmu. Bagaimana perasaanmu ketika bapakmu melihat dirimu dalam keadaan melanggar perintahnya? Apakah kamu tidak khawatir nantinya bapakmu akan menghukummu? Maka jadikanlah perasaanmu sama seperti itu [bahkan lebih] kepada Allah, karena Dia dapat melihat dirimu disetiap kesempatan yang kamu tidak dapat melihat Dia! Maka janganlah kamu anggap enteng pada perkara apapun juga yang kamu telah dilarang darinya!

Wahai anakku.. Sesungguhnya Rabmu sangat dahsyat murka-Nya, siksa-Nya teramat pedih, maka hati-hatilah kamu wahai anakku, dan takutlah kamu terhadap kemurkaan-Nya, dan janganlah kamu terlena oleh kasih sayang Rabbmu dan sesungguhnya Allah menangguhkan (siksa-Nya) bagi orang yang berbuat dzalim, sampai-sampai jika Dia menyiksa orang tersebut, niscaya Dia tidak akan melepaskannya. Wahai anakku… Sesunguhnya di dalam ketaatan kepada Allah ada kelezatan dan kebahagiaan yang tidak akan dapat dirasakan kecuali dengan mencobanya. Maka, wahai anakku… Pergunakanlah ketaatan kepada Allah sebagai bahan ujian pada setiap harinya supaya engkau dapat merasakan kelezatan, dan supaya engkau dapat merasakan kebahagiaan ini, niscaya kamu dapat mengetahui keikhlasan dirku di dalam menasehatimu. Wahai anakku.. Sesungguhnya engkau akan mendapati rasa berat hati di dalam ketaatan kepada Allah pada pertama kalinya, maka pikullah beban berat ini, dan bersabarlah padanya, sampai ketaatan tersebut engkau rasakan menjadi rutinitas yang dapat dijinakkan.

Wahai anakku… Lihatlah kepada dirimu ketika dulu kamu berada di bangku (sekolah); kamu belajar membaca dan menulis, dan kamu diperintahkan supaya menghafal Al-Qur’anul Karim dengan mendiktekannya, bukankah kamu dulu di sana benci terhadap bangku (sekolah) serta gurunya, dan kamu berangan-angan supaya cepat berakhir? Nah, pada hari ini kamu telah mencapai kedudukan yang mana kamu dapat mengetahui faedah kesabaran dalam belajar di bangku (sekolah), dan engkau telah tahu bahwa pengajarmu dulu berusaha untuk kebaikan dirimu..

Maka, wahai anakku… Dengarkanlah nasehatku, dan bersabarlah di atas ketaatan kepada Allah sebagaimana engkau sabar dalam belajar di bangku (sekolah), niscaya nanti engkau akan mengetahui faedah dari nasehat ini, serta akan tampak jelas bagimu apabila hidayah telah membantu untuk beramal dengan nasehat ustadzmu.

Wahai anakku… Janganlah kamu sekali-kali beranggapan bahwa bertakwa kepada Allah adalah shalat, puasa, dan semisalnya dari berbagai ibadah (yang dhahir) saja. Bahwa sesungguhnya bertakwa kepada Allah mencakup segala sesuatu, maka bertakwalah kamu kepada Allah pada (hak-hak) saudara-saudaramu, janganlah kamu sakiti salah seorang dari mereka, dan bertakwalah kamu kepada Allah pada (hak-hak) negerimu: Janganlah kamu khianati dia dan jangan kamu biarkan musuh menguasainya, serta bertakwalah kamu pada (hak-hak) dirimu, janganlah kamu sia-siakan waktu sehatmu dan janganlah kamu berperilaku kecuali perilaku yang mulia. Wahai anakku.. Rasulullah saw telah bersabda: Bertakwalah kamu dimanapun kamu berada, dan iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya (kebaikan tersebut) akan menghapusnya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlak yang baik [1]

(Diambil dari Washaya al-Aba’ Lil Abna)

Do’a Bulan Rajab, Sya’ban dan Romadhon ?

Saat ini kita memasuki bulan rajab, dan sebagaimana kita ketahui ada sebuah do’a yang masyhur dikalangan masyarakat kita, “

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ; “Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad 1/259, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam Ad-Du’âno. 911, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Imân 3/375 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/269 dari jalan Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd dari Ziyâd An-Numairy dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd menurut Imam Al-Bukhâry munkarul hadits, dan Ziyâd An-Numairy juga lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizânul I’tidâl.

Hadist ini mempunyai dua cacat

  1. Zaidah bin Abi Ar-Raaqod
  2. Zyad bin Abdullah an numairy

Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar.
An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.

bolehkah kita menggunakan atau memakai do’a atau gubahan do’a diatas?

Pada dasarnya kita boleh berdo’a apa saja kepada Alloh SWT.  Kita boleh meminta sesuatu kebutuhan kita di dunia dan di akhirat selama itu adalah kebaikan,

Dalam sebuah hadist diriwayatkan :

Di masa Rasul, ada seorang shahabat yang diriwayatkan berdoa dengan lafadz yang beliau SAW belum pernah dengar. Sampai beliau SAW minta shahabat tadi mengulanginya. Bunyinya:
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مبارَكًا فيه كما يحبُّ ربُّنا أن يُحمَدَ ويَنبغي له
Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak dan baik serta diberkati di dalamya, dengan pujian yang Tuhan kami menyukai untuk dipuji dengannya dan pantas pujian itu untuk-Nya.

Setelah mendengar sekali lagi lafadz doa gubahan shahabatnya itu, beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh 10 malaikat berebutan untuk menuliskannya. Namun mereka tidak tahu cara menuliskannya hingga mereka bawa kepada rabbul ‘izzah Allah SWT, maka Allah SWT perintahkan, “Tulislah sebagai hamba-Ku mengucapkannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dengan para perawi yang tsiqah

Hadits di atas membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak melarang shahabatnya berdoa dengan lafadz yang dikarangnya dan menjadi isyarat kepada kita bahwa berdoa dengan redaksi sendiri bukanlah suatu yang terlarang, tidak dari sisi lafadz maupun waktu.

Ada juga do’a untuk seseorang yang telah di karunia anak

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ وَرُزِقْتَ بِرُّهُ .
Barokallaahu laka fil mauhibi, wasyakarta wahiba wabalagha asyuddahu waruziqta birrohu

Ini bukan hadits Nabi, melainkan atsar dari Hasan Al-Bashri, seorang tokoh tabi’in. Itu pun sanadnya lemah. Ada juga yang mengatakan ini sebagai atsar dari Husain bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma. Kita boleh mengamalkan atsar ini namun bukan dengan keyakinan bahwa ini adalah sunnah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan sekadar sebagai do’a atau ucapan selamat bagi saudara kita yang baru saja dikaruniai anak.  Imam An-Nawawi menyebutkan do’a ini dalam Al-Adzkaar/Bab Istihbab At-Tahni`ah wa Jawab Al-Muhanna`/tanpa nomor hadits (hadits sebelumnya bernomor 741 dan hadits sesudahnya bernomor 742, karena memang Imam An-Nawawi tidak menganggap do’a ini berasal dari Nabi, melainkan dari Husain bin Ali). Syaikh DR. Sa’id bin Ali Al-Qahthani menyebutkan do’a ini dalam Hishnul Muslim pada hadits nomor 145, seraya mengisyaratkan pentash-hihan hadits ini oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Shahih Al-Adzkar (2/713).(kumpulan do’a sehari-hari, Abduh ZA)
lafazd do’a ini juga terdapat dalam tuhfatul maudud fi ahkamil maulud karya ibnul qoyyim

Jadi berdasarkan hadist dan atsar tersebut pada dasarnya boleh berdo’a dengan redaksi sendiri ataupun redaksi para salafus sholeh atau ulama selama hal tersebut tidak diklaim bahwa lafadz tersebut adalah ajaran rosulullaah SAW, karena bisa jadi seseorang mempunyai permintaan yang lebih spesifik. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali beliau mengatakan “yang penting janganlah sampai mengesampingkan do’a-do’a yang berasal dari Alqur’an dan Sunnah. Jadi berdasarkan keterangan diatas kita boleh menggunakan lafazd do’a  atau gubahan lafazd tersebut selama kita tidak mengklaim dan menyakini bahwa do’a tersebut berasal dari hadist (shohih) Rosulullaah SAW juga tidak berniat untuk mengamalkan atau melandaskan hadist (dhoif) tersebut melainkan hanya menggunakan lafazd karena bisa jadi kita tidak pandai menyusun do’a atau alasan lainnya yang bisa dibenarkan.

Selain do’a diatas yang sering kita dengar juga adalah do’a hendak makan juga do’a hendak berbuka puasa, namun demikian sekiranya disana terdapat contoh-contoh yang berasal dari alqur’an dan sunnah (yang shohih) yang mencakup permintaan kita atau keadaan tertentu tentu lebih baik menggunakannya, karena hal itu lebih selamat dan lebih baik.   Wallaahu A’lam Bishowab

Saat ini kita telah memasuki bulan rajab, dan sebagaimana kita ketahui ada sebuah do’a yang masyhur dikalangan masyarakat kita, “

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ; “Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad 1/259, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam Ad-Du’â’ no. 911, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Imân 3/375 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/269 dari jalan Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd dari Ziyâd An-Numairy dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Zâ’idah bin Abi Ar-Ruqâd menurut Imam Al-Bukhâry munkarul hadits, dan Ziyâd An-Numairy juga lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizânul I’tidâl. Dan hadits di atas dilemahkan pula oleh Syaikh Al-Albâny dalam Dho’îful Jami’.

Hadist ini mempunyai dua cacat

1. Zaidah bin Abi Ar-Raaqod

2. Zyad bin Abdullah an numairy

Berkata ahlul ilmi =

Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar.
An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.

Andaikan kita ingin berdo’a di bulan rajab ini, bolehkah kita menggunakan atau meniru do’a diatas?

Pada dasarnya kita boleh berdo’a apa saja kepada Alloh SWT. Kita boleh meminta sesuatu kebutuhan kita di dunia dan di akhirat selam itu adalah kebaikan,

Dalam sebuah hadist diriwayatkan :

Di masa Rasul, ada seorang shahabat yang diriwayatkan berdoa dengan lafadz yang beliau SAW belum pernah dengar. Sampai beliau SAW minta shahabat tadi mengulanginya. Bunyinya:
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مبارَكًا فيه كما يحبُّ ربُّنا أن يُحمَدَ ويَنبغي له
Segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak dan baik serta diberkati di dalamya, dengan pujian yang Tuhan kami menyukai untuk dipuji dengannya dan pantas pujian itu untuk-Nya.

Setelah mendengar sekali lagi lafadz doa gubahan shahabatnya itu, beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh 10 malaikat berebutan untuk menuliskannya. Namun mereka tidak tahu cara menuliskannya hingga mereka bawa kepada rabbul ‘izzah Allah SWT, maka Allah SWT perintahkan, “Tulislah sebagai hamba-Ku mengucapkannya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dengan para perawi yang tsiqah

Hadits di atas membuktikan bahwa Rasulullah SAW tidak melarang shahabatnya berdoa dengan lafadz yang dikarangnya dan menjadi isyarat kepada kita bahwa berdoa dengan redaksi sendiri bukanlah suatu yang terlarang, tidak dari sisi lafadz maupun waktu.

Ada juga do’a untuk seseorang yang telah di karunia anak


بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ وَرُزِقْتَ بِرُّهُ .
Barokallaahu laka fil mauhibi, wasyakarta wahiba wabalagha asyuddahu waruziqta birrohu

Ini bukan hadits Nabi, melainkan atsar dari Hasan Al-Bashri, seorang tokoh tabi’in. Itu pun sanadnya lemah. Ada juga yang mengatakan ini sebagai atsar dari Husain bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma. Kita boleh mengamalkan atsar ini namun bukan dengan keyakinan bahwa ini adalah sunnah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan sekadar sebagai do’a atau ucapan selamat bagi saudara kita yang baru saja dikaruniai anak.  Imam An-Nawawi menyebutkan do’a ini dalam Al-Adzkaar/Bab Istihbab At-Tahni`ah wa Jawab Al-Muhanna`/tanpa nomor hadits (hadits sebelumnya bernomor 741 dan hadits sesudahnya bernomor 742, karena memang Imam An-Nawawi tidak menganggap do’a ini berasal dari Nabi, melainkan dari Husain bin Ali). Syaikh DR. Sa’id bin Ali Al-Qahthani menyebutkan do’a ini dalam Hishnul Muslim pada hadits nomor 145, seraya mengisyaratkan pentash-hihan hadits ini oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Shahih Al-Adzkar (2/713).
lafazd do’a ini juga terdapat dalam tuhfatul maudud fi ahkamil maulud karya ibnul qoyyim

Jadi berdasarkan hadist dan atsar tersebut pada dasarnya boleh berdo’a dengan redaksi sendiri ataupun redaksi para salafus sholeh atau ulama selama hal tersebut tidak diklaim bahwa lafadz tersebut adalah ajaran rosulullaah SAW, karena bisa jadi seseorang mempunyai permintaan yang lebih spesifik.

Namun demikian sekiranya disana terdapat contoh-contoh yang berasal dari alqur’an dan sunnah (yang shohih) yang mencakup permintaan kita tentu lebih baik menggunakannya, karena hal itu lebih selamat dan lebih baik. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali beliau mengatakan “yang penting janganlah sampai mengesampingkan do’a-do’a yang berasal dari Alqur’an dan sunnah.

Wallahu A’lam Bishowab



Allohummanshur ikhwanal muslimiina fii filistiin wa fii kulli makan,..

Ya Alloh ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat,
Ya Alloh jinakkan, satu padukan hati orang-orang muslimin,dan damaikanlah mereka, perbaikilah keadaan mereka,
Ya Alloh, persatukanlah kalimat umat Islam pada petunjuk-Mu, hati kami pada ketakwaan, niatnya pada jihad di jalan-Mu.
Ya Alloh, lepaskan belenggu mereka dengan kekuatan-Mu, persatukan keterpecah-belahan mereka dengan rahmat-Mu. Dan, ambil alih
urusan mereka dengan perhatian-Mu. Tolonglah kaum muslimin untuk melawan musuh-musuh- Mu.

Ya Alloh hindarkan kami dari bencana, wabah, kekejian, kemungkaran, segala cobaan dan fitnah, yang tampak maupun tidak
tampak, di negara kami dan negara kaum muslimin lainnya.

Ya Alloh janganlah Engkau kuasakan musuh-musuh diatas kami dan jadikanlah pembalasan kami atas siapa saja yang menganiaya
kami, dan menangkanlah kami atas siapa saja yang memusuhi kami

Ya Alloh, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
Ya Alloh hancurkanlah orang-orang kafir, orang-orang musyrik, musuh-musuhMu dan musuh musuh agamaMu
Ya Alloh, kami serahkan kepada-Mu urusan zionis yahudi yang kejam. kami serahkan kepada-Mu pesoalan orang-orang musyrik yang
fanatik. Ya Alloh, kami serahkan kepada-Mu semua musuh-musuh- Mu.

Ya Alloh, pisahkan persatuan mereka, cerai-beraikan kesatuan mereka,hancur leburkan kekuatan mereka, balik bendera mereka,
goncang kaki mereka, letakkanlah di hati mereka rasa ketakutan, jauhkan kekuasaan mereka dari bumi-Mu, jangan Engkau berikan
jalan bagi mereka untuk menguasai salah seorang hamba-Mu yang beriman, dan turunkan adzabMu yang tidak bisa ditolak oleh para
pendosa.

Ya Alloh, janganlah Engkau palingkan diri-Mu dari kami meskipun sekejap atau lebih sedikit lagi.
Ya Alloh, bantulah saudara-saudara kami yang berjihad di jalanMu di Palestina, di Iraq, di Afganistan dan dimanapun dia
berada. Teguhkanlah hati saudara-saudara kami yang tertindas, di palestina, di iraq, di afganistan dan seluruh penjuru dunia.

Ya Alloh, janganlah Engkau binasakan kami karena perbuatan orang orang yang tidak berpegetahuan di antara kami. Dan, jangan
karena dosa dosa kami lantas Engkau biarkan orang-orang yang tidak takut kepada- MU, menguasai kami.

Ya Alloh, jadikanlah negeri ini aman, tentram, dan sejahtera. Juga negeri kaum muslimin lainnya.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan berkah-Mu pada hamba dan rasul-Mu, Muhammad, juga pada keluarga, sahabat, dan
orang-orang yang mengikutinya sampai hari kemudian.

Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
Ya Alloh, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

Natal, Perayaan dan Mengucapkan selamat, Bagaimana sikap kita seharusnya…?

Berhubung ntar lagi tanggal 25 desember, maka bagaimanakah sikap kita sebagai seorang mukmin dalam menyikapi hal ini :

Tentang hal ini saya mencoba memetakan,

1. Merayakan Natal Bersama

Ulama sepakat bahwa ikut merayakan natal bersama adalah haram bahkan MUI sendiri pernah mengeluarkan fatwa terkait dengan hal ini (akan saya sampaikan dibawah)

2. Mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani, ulama ada yang berbeda pendapat, sebagian besar tidak membolehkan, meskipun ada pendapat yang memperbolehkan.

Pendapat Yang Mengaharamkan Atau Tidak Memperbolehkan


Baca entri selengkapnya »

Bagaimana Jika Maslahat dan Mafsadat Bertemu

Pertimbangan antara Maslahat(Kebaikan) dan Mafsadat (Kerusakan) apabila kedua hal yang bertentangan ini bertemu

Apabila dalam suatu perkara terdapat maslahat dan kerusakananya, ada bahaya dan ada manfaatnya, maka keduanya harus dipertimbangkan dengan betul. Kita harus mengambil keputusan terhadap pertimbangan yang lebih berat dan lebih banyak, karena sesungguhnya yang lebih banyak itu mengandung hukum yang menyeluruh.
Kalau Baca entri selengkapnya »

Dalil Disyariatkannya Tanzhim dalam Dakwah Islam Kontemporer

Abi AbduLLAAH

MASYRU’IYYATU AT-TANZHIM FI AD-DA’WAH AL-ISLAMIYYAH AL-MU’ASHIRAH

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar [217]; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Aali Imraan, 3/104)

[217] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

MUQADDIMMAH

Salah satu dakwaan aneh dari para tokoh kaum Zhahiriyyah dari ummat ini, di antaranya adalah bahwa Islam tidak membenarkan tanzhim (struktur organisasi) dalam berdakwah, membuat tanzhim menurut mereka adalah adalah bid’ah yang tidak dikenal oleh generasi As-Salafus Shalih, maka oleh karena ia tidak ada dimasa As-Salafus Shalih, maka menurut mereka ia harus ditolak sejauh-jauhnya & para pelakunya yang menggunakan tanzhim dalam dakwah mereka dianggap Ahli Bid’ah sehingga harus di-tahdzir. Inna liLLAAHi wa inna ilaihi raaji’uun..

Tentunya dakwaan ini keluar tiada lain karena telah menyimpangnya mereka dari Al-Haqq dan karena sikap ekstrem (ghuluww) yang telah berurat berakar di antara mereka. Padahal Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau- telah mengingatkan kita semua dari sikap ekstremitas ini dalam sabdanya: “Wahai sekalian manusia berhati-hatilah kalian pada sikap ekstrem dalam beragama, karena sesungguhnya yang telah mencelakakan ummat sebelum kalian adalah sikap ekstrem dalam beragama [1].”

Tanzhim dalam aktifitas dakwah adalah merupakan sebuah hal yang bersifat dharuriy (tidak bisa tidak) dalam fiqh, berdasarkan Baca entri selengkapnya »

Mengapa Para Aktifis Gerakan Islam Harus Menjauhi Dari Sikap Ekstrem Dalam Beragama?

DR. Yusuf Al-Qardhawi

Bedah Buku: Ash-Shahwah Islamiyyah Baynal Juhud Wa Tatharruf (Gerakan Islam antara Bersungguh-Sungguh Menjalankan Agamanya yangg Terpuji denga Ekstremitas yang Tercela), oleh DR. Yusuf al-Qardhawi.

ألصحوة ألإسلا مية بين الجهود والتطرف

ألدكتور يوسف ألقرضا وي

Definisi

Ekstrem (تطرف): Menurut etimologis bahasa Arab (لغة) bermakna berdiri di tepi, jauh dari tengah. Dalam bahasa Arab awalnya digunakan untuk hal yang materil, misalnya dalam berdiri, duduk atau berjalan. Lalu kemudian digunakan juga pada yang abstrak seperti sikap menepi dalam beragama, pikiran atau kelakuan.

Dalil-Dalil Syariat Yang Melarang Sikap Esktrem

Islam memerintahkan ummatnya bersikap adil dan moderat sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah:

“Demikianlah KAMI jadikan kamu ummat yang adil dan moderat (wasathan) supaya kalian menjadi saksi atas manusia.” (QS 2:143).

Baca entri selengkapnya »

Fiqih Da’wah: Antara tasyaddud (yang keras) dan tasahhul (kebablasan)

Fiqih Da’wah: Antara tasyaddud (yang keras) dan tasahhul (kebablasan)

oleh : Farid Nu’man

Mukadimah

Seorang Al Akh bercerita, ada seorang ustadz ingin menda’wahi suku dayak pedalaman, mereka adalah suku yang tidak mengenal batas aurat. Hal yang biasa bagi mereka keluar rumah mengenakan celana dalam saja. Suatu hari, Al Akh ini bersama beberapa kawannya berkunjung ke rumah ustadz tersebut. Al Akh ini begitu terkejut, karena ustadz tersebut menyambutnya hingga ke luar rumah hanya mengenakan celana dalam saja. Ketika ditegur, ustadz itu mengira bahwa yang datang adalah orang-orang Dayak yang menjadi objek da’wahnya! Jadi, ia seperti itu agar lebih diterima di masyarakat Dayak.

Sementara itu, Baca entri selengkapnya »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!